AW Surveys

Kamis, 09 April 2009

Waktu, Uang Atau Hidup Sesuai Keinginan




(Epochtimes.co.id)

Siapa yang punya waktu? Walaupun saya tahu ada sejumlah orang yang membuang waktunya dengan percuma, tetapi kebanyakan orang mendapatkan bahwa waktu mereka melesat begitu saja sebelum mereka mampu melakukan sesuatu, sedang yang lainnya selalu mengejar-ngejar waktu.


Saat ini, dengan jaman fast food, oven microwave, pencuci piring otomatis, dan robot penyedot debu, orang-orang seharusnya mempunyai banyak waktu luang karena adanya bantuan alat-alat itu.

Dan hal lain lagi, banyak diantara kita menganggap ini merupakan sebuah pembebanan pada waktu yang kita miliki saat batas kecepatan menghadang perjalanan kita pada kecepatan yang kita inginkan karena kita sedemikian tergesa-gesa!

Waktu yang mendesak, kehiruk pikukan, stress-waktu 24 jam sehari terasa tidak cukup. Sebagian orang berusaha untuk mengompensasi ‘kekurangan waktu’ dengan membuat jadwal harian yang terinci, hingga hitungan menit; tetapi seringkali malah membawa hasil yang sebalik-nya, kekurangan waktu, dan stress tambahan, walaupun lebih baik direncanakan.

Mantan Presiden Perancis Francois Mitterand (1916-1996) berkomentar, “Saya tidak pernah mengenakan jam tangan. Pecutan waktu hanya terjadi pada orang-orang yang membayangkan diri mereka sebagai kuda pacuan yang teraniaya.”

Sedang berlangsung?
Beberapa orang berlari-lari untuk menghemat waktu di sana sini. Dan suatu waktu saat mereka tiba di rumah setengah jam lebih awal, stress telah menguras energi mereka pada suatu titik dimana mereka akhirnya hanya dapat terhenyak di depan pesawat TV, nonton program yang tidak bermutu dan membiarkan iklan-iklan menghanyutkan mereka untuk percaya bahwa dengan membeli produk tertentu akan memberikan mereka kedamaian pikiran.

Dan, tentu saja pesawat TV-nya haruslah yang model terbaru yang berlayar datar. “Pada akhirnya, kita tidak memanjakan diri kita dengan barang yang lain lagi”

Tentulah akan jauh lebih baik bila kita memanfaatkan setengah jam ekstra itu untuk ngobrol dengan kawan lama yang kita temui saat sedang melakukan tugas pemasaran, atau pulang dengan mengambil jalan memutar yang lain dan mungkin akan dapat menikmati suasana sekitar yang menyenangkan.

“Isikan lebih banyak kehidupan ke dalam waktu Anda dan bukannya menjejalkan lebih banyak waktu ke dalam kehidupan Anda”

Banyak penelitian telah membuktikan bahwa suatu kehidupan yang ada di jalur cepat akan membuat orang sakit. Tubuh bereaksi terhadap sebuah kehidupan yang tidak seimbang – hal ini termanifestasi pada kerontokan rambut, mungkin bahkan bisa berupa serangan jantung atau kanker.

Sebuah kehidupan yang seimbang membutuhkan suasana santai – misalnya untuk bermeditasi, momen-momen penuh dengan pengertian, gagasan spontan, hubungan antar manusia yang menyenangkan, dan udara segar.

Antoine de St. Exupery mengatakan, “Adalah hal bagus untuk tidak menganggap waktu “yang terbuang” sebagai sesuatu yang telah menggerogoti kita, tetapi sebagai sesuatu yang membuat kita jadi utuh.”

“Ya, saya ingin . . . . . tetapi saya tidak tahu dimana saya dapat menemukan waktu!” keluh banyak orang. “Tetapi sebelum saya sempat mengerjakannya, waktu sudah lewat.”

Bila kita tidak memiliki waktu untuk merenung – itu menandakan hidup kita tidak seimbang – maka itu adalah saatnya untuk memeriksa bagian mana yang kelebihan berat.

Bagaimana kita memanfaatkan waktu kita yang hanya 24 jam sehari? Hal-hal manusia apa yang telah mencuri waktu kita dari hal-hal yang seharusnya kita lakukan? Dan hal apa yang cukup penting untuk kita prioritaskan? ‘Pencuri waktu’ itu telah masuk dari mana ? Dan bagaimana kita bisa membiarkan pintu kita terbuka untuk mereka?

Berikut membahas hubungan antara waktu dan uang:
Uang atau suatu gaya hidup
“Uang membuat dunia berputar,” kata sebagian orang. Tetapi siapa yang menentukan peran utama apa yang ada dalam kehidupan pribadi seseorang?

Kita perlu mencari penghasilan untuk hidup. Adalah bijak untuk memberikan prioritas kepada hal-hal yang menuntut pembiayaan terbesar, dan kemudian pertimbangkan hal yang ‘sepele’; ini merupakan sebuah aturan sederhana untuk diikuti. Tetapi uang yang demi uang tidak boleh menjadi prioritas.

Orang secara keliru mempercayai bahwa dengan memiliki banyak uang, dan barang-barang yang bisa dibeli dengannya, membuat kita bahagia. Orang tertentu berharap bahwa uang dapat menggantikan semua yang telah hilang saat mereka mengejar uang – yaitu kesehatan dan perasaan damai dalam hati.

Ini merupakan sebuah paradoks bila seseorang ingin bekerja dalam waktu yang lama untuk menggantikan waktu bersantainya yang hilang. Coba tanyakan pertanyaan ini pada diri Anda sendiri: untuk menentukan keputusan masa mendatang berdasarkan waktu maupun uang, dapatkah uang memberi saya - atau orang lain - kedamaian? Apakah lebih baik bagi diri saya untuk mengambil cuti sehari yang tanpa dibayar? Seorang penulis menganjurkan untuk mengukur kekayaan seseorang dari banyaknya waktu yang ia miliki dan dapat ia tentukan.

George Orwell berkomentar, “Waktu bukan berputar lebih cepat dari sebelumnya, tetapi kita yang melewatinya dengan cara yang lebih terburu-buru” ini adalah PR untuk difikirkan.

“Itu semuanya baik,” beberapa orang-tua mengatakan, “tetapi Anda tidak punya petunjuk atas apa yang dituntut oleh anak-anak jaman sekarang terhadap orang-tua pada masa sekarang ini, dan alangkah mahalnya barang-barang yang mereka inginkan!”

Memang, kebutuhan dan kegiatan sekolah menghabiskan biaya, dan di atas segalanya itu, iklan telah memicu anak-anak muda ke dalam sub kesadaran mereka “itulah yang harus saya miliki.”

Tetapi merupakan suatu eksperimen yang berharga untuk mengetahui apa yang lebih dipilih oleh anak-anak: sebuah komputer game mahal yang menggambarkan monster-monster yang hebat atau menghabiskan beberapa malam bersama orang tuanya di gunung.

Sayangnya, banyak anak-anak yang sudah masuk perangkap iklan dan percaya bahwa mereka harus memiliki barang-barang itu, yang begitu memperolehnya, akan berubah menjadi suatu kekecewaan besar. Hal terbaik yang dapat diberikan kepada anak-anak adalah sesuatu yang mereka dambakan – waktu dan perhatian kita yang tidak terpecah.

Sekarang atau tidak sama sekali – “Dengan tiba-tiba jarum panjang dari jam berhenti di tempat yang sama dengan jarum kecil dan ia berkata, ‘akhirnya kita punya waktu!” (Anonim)

Berbagi waktu di tempat kerja
Bagian berikut ini relevan untuk pekerja bangsa Jerman, tetapi dapat juga diterapkan pada pekerja lain.

Dapatkah anda melewati hari-hari Anda dengan uang yang lebih sedikit, bekerja dengan waktu yang lebih sedikit untuk memperoleh lebih banyak waktu luang?

“Perwujudan kemiskinan manusia moderen adalah kurangnya waktu yang dimilikinya,” kata Ernst Ferstl.

Bekerja lebih sedikit untuk memperoleh lebih banyak waktu adalah tidak mungkin bagi banyak orang tua, khususnya bagi single parents dan bagi mereka yang bekerja dengan upah minimum. Orang-orang ini harus bekerja dalam waktu panjang untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.

Tetapi bagi orang-orang tertentu telah menjadi suatu hal yang penting untuk dapat memanfaatkan waktu mereka dengan bijak, untuk memperbarui semangat hidup mereka, dan mengembangkan wawasan baru terhadap bagaimana dapat dengan lebih baik menjalani hidup mereka dengan kondisi yang mereka hadapi. (Heike Solinsky/The Epoch Times/bdn)

Menyebarkan Niat Baik




(Epochtimes.co.id)

Suatu ketika, seorang narapidana yang mengidap penyakit leukemia diantar ke rumah sakit kami. Pihak rumah sakit menemukan bahwa narapidana ini perlu melakukan transplantasi tulang sumsum. Walaupun dia adalah seorang penjahat, atas dasar perikemanusiaan, kita tetap harus membiarkan dia mendapatkan perawatan medis. Karenanya kami pergi ke Bank tulang sumsum negara untuk melakukan pencocokan. Diluar dugaan, kami mendapatkan ada yang cocok.


Oleh karena narapidana ini adalah penjahat kriminal kelas kakap, sebenarnya di dalam hati kecil kami juga merasa enggan menolongnya.

Dan ketika kami memberitahukan pendonor tentang identitas si penderita, kami mengingatkan kepadanya, “Anda boleh mengatakan ‘tidak’ jika Anda mengatakan tidak, maka persoalan ini selesai sampai di sini.”

Yang membuat orang sangat takjub adalah ucapan dari si pendonor, “Saya besedia, meskipun dia adalah seorang penjahat yang akan segera dihukum tembak. Asalkan dia masih bisa hidup sehari lebih, asalkan dia membutuhkan saya, saya tetap masih bersedia menjadi pendonornya.”

Seorang manusia yang memiliki kelapangan dada sedemikian besar, maka kami terpaksa melakukan transplantasi sumsum tulang bagi narapidana itu.

Setelah tansplantasi, reak-si dari narapidana itu sangat bagus. Ketika dia tahu bahwa meskipun pendonor sudah sangat jelas dengan identitasnya sebagai seorang narapidana, tetapi masih mau bermurah hati mendonorkan sumsum tulangnya, menyebabkan dia merasa sangat terharu dan menjadi insyaf.

Sejak itu di dalam penjara dia bekerja keras demi kemakmuran negara, kemudian dia masuk sekolah kejuruan perawat, setelah lulus dari sekolah perawat, dia mengajukan permintaan menjadi perawat pria di bagian transplantasi sumsum tulang di rumah sakit kami.

Sekarang dia sudah mengabdi di rumah sakit kami untuk beberapa tahun lamanya, pekerjaan utamanya adalah memberi penjelasan kepada seluruh penderita tentang tansplantasi sumsum tulang itu apa. Oleh karena dia sendiri pernah menjalani transplantasi sumsum tulang, maka hasil penjelasannya jauh lebih baik daripada yang diberikan oleh perawat-perawat pada umumnya.

Menyebarkan pikiran baik ternyata memiliki kekuatan yang sangat besar. Adanya sekilas pikiran baik untuk mendonorkan sumsum tulang, bukan hanya telah menolong sebuah nyawa, namun juga telah menolong merubah hati seseorang yang jahat menjadi baik. Dengan berkurangnya satu orang penjahat di muka bumi ini, maka ketenteraman hidup pun meningkat.

Hal tersebut mengingatkan saya ketika masih kuliah di Universitas Yale.
Pada suatu hari saat sedang menunggu lift, di samping saya berdiri seorang pria negro tinggi dan tampan mengenakan kemeja merah.

Saya bertanya kepadanya, “Anda hendak ke lantai berapa?”
Dia mengatakan lantai-9. Sewaktu saya katakan bahwa lantai itu adalah bagian penyakit anak-anak, dia berkata, “Memang benar! Saya akan pergi ke ruangan ICU penyakit anak-anak dan menjadi relawan di sana.”

Dia melanjutkan, “Dulu saya terlahir dalam kondisi sangat kritis, dan dirawat di rumah sakit ini selama lima bulan baru diijinkan pulang ke rumah. Sekarang saya sudah dewasa, maka saya hendak menjadi relawan di sini.

Hal ini memberi saya satu kesan yang sangat mendalam. Daerah pemukiman orang kulit hitam di sekitar Universitas Yale, acapkali dipandang sebagai daerah yang kurang aman bagi orang lain.

Dia memberitahu kepada saya, ketika itu para dokter semuanya menyebut dirinya sebagai anak “ratusan juta dollar”. Harus menghabiskan ratusan juta dollar untuk menancapkan selang guna menolong jiwa seorang anak yang kelak mungkin bisa menjadi seorang pemadat. Lantas apa gunanya? Sudahlah tidak perlu ditolong! Ini merupakan suara hati dari kebanyakan dokter.

Akan tetapi, kebijakan rumah sakit yang juga dengan pertimbangan perikemanusiaan telah memutuskan untuk memberikan pertolongan ini. Merasa sangat berterima kasih kepada orang-orang yang dulu telah bersedia menolongnya, sekarang dia merasa berkewajiban untuk membalas kebaikan ini kepada masyarakat.

Karena itu, banyak sekali persoalan di dunia ini yang tidak bisa diukur dengan uang.
Jika menggunakan uang sebagai tolok ukur, maka di dunia ini hanya akan ada beberapa persoalan saja yang cukup berharga untuk dilakukan. Setidaknya jika masalah ini tidak ada sangkut pautnya dengan Anda, maka Anda pasti akan merasa bahwa hal itu tidak cukup berharga untuk dilakukan.

Seperti halnya pemuda itu, dia kembali ke rumah sakit itu menjadi relawan, tidak peduli seberapa besar pengorbanan yang bisa dia lakukan, tetapi justru hanya dari ketulusan niatnya ini, telah mengharukan entah berapa banyak orang!

Sesungguhnya besar kecilnya niat baik yang ada bu-kanlah yang utama, yang ter-penting adalah usaha untuk selalu menyebarkan niat baik ini dalam kehidupan ini. (Minghui.net/lin)

TABIAT BURUK DAN MENCABUT PAKU




(Epochtimes.co.id)

Suatu hari, Harry menjadi sangat marah karena saat bermain bola basket teman sekelasnya tanpa sengaja telah menjatuhkan kaca matanya, dia hampir memukul temannya itu, beruntung tidak sampai terjadi perkelahian setelah dilerai. Ketika saya mengajar dalam kelas, saya menceritakan sebuah kisah kepada seluruh kelas:


Ada seorang anak lelaki berwatak sangat temperamental, sering kali menjadi marah besar hanya karena permasalahan yang sepele, oleh karena itu semua teman sekelasnya tidak menyukai dirinya.

Ayah anak lelaki tersebut sangat ingin sekali merubah tabiat buruk dari anaknya itu, maka dia menyerahkan sekantung paku kepada anaknya, dan memberitahukan, setiap saat ketika dia marah, tancapkan sebuah paku di pagar halaman belakang, kemudian mengingatkan diri sendiri untuk tidak boleh cepat menjadi marah.

Pada hari pertama, di luar dugaan, anak lelaki tersebut telah menancapkan paku sebanyak 38 batang! Dia sendiri pun merasa sangat malu, lalu dia memutuskan bertekad untuk memperbaiki keadaan ini.

Hari demi hari telah terlewati, anak lelaki ini benar-benar menuruti nasehat ayahnya, setiap kali menjadi marah, segera menancapkan sebuah paku, serta berusaha mengendalikan emosinya.

Berangsur-angsur, jumlah paku yang dia tancapkan berkurang, dan anak lelaki itu juga menemukan bahwa mengendalikan emosi diri jauh lebih mudah dari pada menancapkan paku-paku itu.

Akhirnya pada suatu hari, anak lelaki tersebut sudah tidak butuh menancapkan paku-paku itu lagi, karena dia sudah tidak bakal kehilang kesabaran untuk menjadi marah.

Dengan sangat girang anak lelaki ini memberitahukan hal ini kepada ayahnya, sambil tersenyum ayahnya menepuk-nepuk pundak anaknya dan berkata, “Sangat bagus sekali, mulai sekarang setiap kali dirimu menemui masalah dan bisa mengendalikan emosi diri sendiri, cabutlah sebuah paku yang berada di pagar.”

Dua bulan kemudian, dengan wajah penuh senyuman anak lelaki ini muncul di depan ayahnya, dia akhirnya berhasil mencabut semua paku yang berada di pagar halaman belakang.

Ayahnya menggandeng tangannya pergi ke halaman belakang dan berkata, “Kamu melakukan dengan sangat baik sekali, kamu benar-benar adalah anak yang baik. Lihatlah, seringkali jika kita mudah menjadi marah, kita bisa seperti paku-paku ini, meninggalkan bekas yang dalam. Jika hari ini kamu membawa pisau menusuk seseorang, maka tidak peduli di kemudian hari bagaimana kamu berusaha menutupi kesalahan ini, menyampaikan beberapa kali permintaan maaf yang tulus pun, bekas luka itu tak akan bisa hilang untuk selamanya.

Sakit hati yang disebabkan oleh perkataan yang kita ucapkan akan melukai orang sama seperti halnya luka yang disebabkan oleh tusukan pisau, yang akan membuat banyak orang tidak sanggup menerima bahkan dapat menimbulkan dendam.”

Selesai menceritakan tentang kisah ini, dan setelah mendiskusikan dengan para murid, saya membuat suatu kesimpulan sebagai berikut:
Karena luapan amarah sesaat yang tak terkendali, manusia mempunyai dua konsekuensi: jika ringan, ia akan kehilangan persahabatan dengan teman karibnya, jika berat maka berarti ia telah melakukan suatu kesalahan besar yang akan disesali seumur hidup.

Dalam acara televisi sering diberitakan anak-anak muda yang melakukan kejahatan perkelahian karena emosi darah muda yang tak terkendali, mereka akhirnya dijatuhi hukuman penjara.

Menyesal pun sudah terlambat! Untuk itu kita semua harus melatih kemampuan mengendalikan diri, segala sesuatu persoalan harus dihadapi dan diselesaikan dengan tenang dan tanpa emosi.
(The Epoch Times/lin)

PERMASALAHAN BENAR DAN SALAH




(Epochtimes.co.id)

Makan bersama dengan teman-teman atau rekanan ada banyak bentuknya, tetapi saya masih lebih menyukai bentuk yang saling menyemangati dan berbicara dari hati ke hati, akhirnya setelah selesai makan, saat hendak berpisah, kita saling tersenyum mengerti, hati dipenuhi dengan perasaan senang dan damai, kita saling mengerti bahwa dalam kehidupan yang nyata ini kita sedang berusaha, kemudian memiliki lebih banyak dorongan tidak henti-hentinya untuk maju ke depan.


Tetapi ada semacam obrolan yang sangat tidak saya senangi, mengobrol tentang permasalahan benar dan salah, tentang gosip, tentang orang ini bagaimana dan orang itu bagaimana, walaupun di dalam kehidupan ini memang terdapat manusia, persoalan dan benda-benda yang menyebabkan pertikaian, walaupun setiap tahun selalu terdapat banyak sekali kekacauan yang berada di seputar kita.

Ada orang yang tidak sabar untuk memperebutkan menang dan kalah, ada orang yang merasa di atas angin dan tidak mau memaafkan orang, ada orang yang berlaku licik untuk menyelamatkan diri, ada orang yang bicaranya sangat keras dan menyakitkan, ada orang yang senang menatap orang lain dengan tatapan yang tajam atau sinis, tetapi mereka semua telah lupa untuk melihat tingkah laku dirinya sendiri.

Ini mungkin adalah watak dasar jahat dari manusia, yang lebih senang mendengarkan persoalan benar dan salah dari orang lain, mengritik kesalahan orang lain. Meskipun topik semacam ini juga telah mengungkapkan banyak sekali fakta dan keadaan yang tidak diketahui oleh dunia luar, akan tetapi setelah mengikuti makan bersama semacam ini, perasaan bukan menjadi senang, sebaliknya dalam hati akan timbul semacam kesedihan dan ketidak berdayaan.

Mendengarkan orang lain membicarakan orang lain, dengan topik, kejadian dan kritikan yang sama, dimana sudah pernah saya dengar berulang-ulang, walaupun orang yang dibicarakan itu memang sesungguhnya adalah demikian, tetapi, orang lain itu justru bagaikan sebuah cermin, merefleksikan hati kita sendiri – apakah kita bersyukur? Gembira? Marah? Iri? Tidak peduli jenis yang manapun, kesemuanya bukan perasaan yang saya dambakan.

Karena ada eksistensi manusia, maka baru ada hati manusia, tetapi setelah dilihat-lihat, maka masalah antara manusia dengan manusia, hanyalah itu itu saja. Saya marah terhadap diri saya yang berada dalam keadaan itu, bukan hanya tidak dapat mengalihkan topik pembicaraan kepada hal-hal yang positif, juga hanya bisa bungkam seribu bahasa.

Dipikir-pikir secara mendalam, “Menutupi kekurangan dan memberitakan kebaikan” sungguh adalah kebajikan yang jarang ada. Bagaimanapun, setelah mengetahui pihak lawan adalah orang yang bagaimana, selain tidak mengikuti jejaknya, juga tidak memanas-manasi keadaan, tidak membicarakan dan tidak menyebarluaskan kejelekan pihak lain, berusaha sedapat mungkin melihat sisi kebaikan dia, tidak memikirkan sisi kejelekan dia, di manapun kita berada selalu memberitakan perbuatan kebajikan, ini sungguh bukan hal yang mudah.

Banyak sekali orang yang merasa senang jika melihat orang lain berbuat kesalahan, melakukan tindakan yang memalukan, tidak senang orang lain membicarakan kekurangan kita, akan tetapi jika mendengarkan orang lain sedang mengatai seseorang, dengan segera kita tambahkan untuk beberapa kata, mencelakakan orang yang sudah dalam keadaan gawat, untuk memamerkan bahwa diri sendiri lebih tahu dari pada yang lain.

Akan tetapi, kebiasaan “mengritik” dan “mengadu kekurangan” semacam ini, dapatkah disebut baik? Perkataan dan perbuatan yang bagaimana baru benar-benar bisa membantu orang lain? Prinsip yang berada di depan mata, mengapa saya tidak dapat melaksanakan?

Perkataan yang sangat sederhana tetapi memiliki bobot yang sangat berat : Lebih banyak melihat kebaikan orang lain, sedikit melihat kekurangan orang lain. Saya kira tidak peduli bagaimanapun juga, saya harus melakukan dengan baik, jika kita tidak bisa merubah lingkungan, setidaknya kita harus bisa menjaga sikap kita. (Xiao Suo/The Epoch Times/lin)

LEMAH LEMBUT MENAKLUKKAN KERAS HATI

(Epochtimes.co.id)

Oleh karena di dunia ini ada sebagian orang yang senang menindas yang lemah tetapi takut pada yang kuat, maka dari itu membuat orang-orang timbul semacam kesalahpahaman, mengira bahwa dengan keras menanggulangi (melawan) yang keras akan menunjukkan bahwa dia seorang yang pandai.

Sebenarnya orang kuat yang benar-benar kuat akan menggunakan kelembutan untuk mengatasi kekerasan, hal itu baru benar-benar menunjukkan dia adalah seorang yang bijak!

Di dalam buku Lao Zi menjelaskan tentang “lemah lembut mengungguli keras hati”, dikatakan bahwa:

“Di dunia ini yang paling lemah lembut adalah air, yang keras dan kuat tidak selalu bisa menang, jika posisi ini ditukar. Lemah bisa menjadi lebih kuat, lembut bisa menjadi lebih keras, semua orang tidak ada yang tidak tahu, tidak semua bisa melaksanakan.”

Lebih lebih jika seseorang sedang berada pada posisi yang lemah dan dalam keadaan yang tidak menguntungkan, ia hanya bisa menggunakan ‘memakai lembut menanggulangi keras’ barulah ada jalan menuju kemenangan.

Hati seseorang yang baik dan murni adalah semacam kekerasan dalam kelembutan, dia bisa memenangkan segala kekuatan dan kekerasan apapun yang ada di dunia ini.

Di suatu malam yang gelap gulita, seorang laki-kaki yang biasa merampas milik orang lain sedang menguntit seorang wanita di sebuah stasiun metro. Dia mengikuti wanita itu turun di sebuah stasiun kecil yang amat sepi.

Ketika itu, malam sudah larut dan sepi, dia bersiap-siap melakukan kekerasan di daerah itu. Dia bergegas melangkah melampaui wanita itu, tidak terduga wanita tersebut mendadak membalikkan badan.

Dengan nada yang amat tulus dan menaruh kepercayaan wanita itu mengutarakan permohonan kepada dia, malam telah larut orang yang berlalu lalang sangat sedikit, seorang wanita bila menempuh perjalanan seorang diri kurang aman, dia sangat senang bisa bertemu lelaki itu di sini, dan memohon kepada lelaki itu untuk mengantarkan dia sepanjang perjalanan.

Tingkah laku dari wanita tersebut, membuat lelaki yang bersiap-siap merampas ini seketika itu kehilangan akal, dan bingung, hanya menganggukkan kepala menyanggupi.

Di sepanjang perjalanan, wanita itu memperlakukan lelaki itu bagai teman yang sudah lama dikenal dan berbincang-bincang dengan akrabnya, sama sekali tidak ada maksud menganggap lelaki itu sebagai orang jahat apalagi menaruh waspada terhadap dia. Hal tersebut telah membuat lelaki yang sebenarnya ingin melakukan kejahatan terhadap wanita tersebut, tanpa disadari telah mengantar wanita tersebut hingga di depan pintu rumahnya, dan dari awal hingga akhir tidak melakukan suatu tindakan apapun yang asusila.

Setelah kejadian itu, lelaki tersebut mengingat kembali dan berkata, dia sebenarnya ingin melakukan kekerasan terhadap wanita tersebut, akan tetapi gerak-gerik tingkah laku yang baik dan tulus dari wanita ini, telah membuat sifat kemanusiaan yang terpendam di dalam hatinya itu tergugah dan membuat dia telah membatalkan semua niat jahatnya.

Wanita tersebut dalam situasi yang genting telah menunjukkan hati yang tulus dan baik, telah menggugah sisi kebaikan dari sifat kemanusiaan pria itu, juga di dalam situasi yang sangat sulit telah menolong diri dia sendiri.

Cara yang digunakan wanita itu adalah mengunakan lembut menanggulangi keras untuk mengubah lelaki itu, sehingga membuat dirinya terhindar dari bencana.

Ada sebuah ungkapan mengatakan, “Empat liang (4 x 50 gram) menggerakkan seribu kati”, yang dibicarakan di sini adalah prinsip ‘kelembutan menaklukkan kekerasan’. Menelusuri sejarah, tidak sulit bisa kita temukan, acapkali orang yang sangat keras mudah sekali ditaklukkan dan dimanfaatkan oleh orang yang lemah lembut.

Untuk membawa diri dalam masyarakat lebih dibutuhkan kemahiran menggunakan kelembutan untuk menaklukkan kekerasan.

Kebanyakan orang yang bersikap keras, perasaan hatinya mudah tersentuh maka akan sangat mudah membuat orang menjadi kehilangan akal budi, hanya berdasarkan emosional sesaat ia telah memutuskan melakukan atau tidak melakukan suatu hal, ini merupakan ciri-ciri khas dari orang yang sifatnya keras, kebetulan juga merupakan titik kelemahan yang mematikan.

Sebongkah batu besar jika jatuh di atas setumpuk kapas, maka bisa dengan mudah terbungkus oleh kapas. Bila memakai kekerasan untuk menaklukkan kekerasan maka kedua-duanya akan menderita kerugian.

Jika menjumpai suatu masalah, lebih-lebih dalam keadaan yang sangat mendesak, mereka yang mengerti akan menggunakan kelembutan untuk menaklukkan kekerasan, itu baru merupakan manifestasi dari seorang yang bijak (arif). (Xiao Suo/The Epoch Times/lin)

BERANI MENANGGUNG AKIBAT




(Epochtimes.co.id)

Sudah lama saya tidak berjumpa dengan teman saya Kevin. Pada suatu pertemuan tidak terduga, saya mengetahui bahwa setelah dia menikah, istrinya telah melahirkan seorang bayi perempuan prematur dengan berat hanya 500 gram.


Selain menghabiskan biaya yang sangat besar, suami-istri berdua juga letih sekali karena harus banyak mondar-mandir, hati merasa cemas.

Saya mendengarkan Kevin bertutur dengan sangat tenang, terharu bahwa walaupun dia tahu kesempatan hidup bayi itu sangat kecil, mereka tetap saja mencari dana kian kemari untuk menanggulangi segala kesulitan. Tidak melepaskan jiwa kecil ini.

Meskipun anak perempuannya itu pada akhirnya harus meninggalkan mereka, tetapi mereka telah berusaha sekuat tenaga. Kevin menghadapi kenyataan itu dengan tenang dan damai, diam-diam mengucapkan selamat tinggal kepada anaknya itu dan mendoakannya agar bisa memulai kehidupan barunya dengan bahagia.

Begitu juga halnya dengan yang pernah saya baca satu artikel di The Epoch Times yang sangat mengharukan. Kisahnya sebagai berikut:

Seorang ibu berusia 50-an telah mengeram hidup cucunya yang seukuran saku dan memiliki berat hanya 630 gram.

Zhou Yulan yang berusia kira-kira 50-an tahun berasal dari propinsi Henan kabupaten Ping Yu, mempunyai menantu hamil tujuh bulan yang terus-menerus mengalami pendarahan hebat, sehingga anaknya dilahirkan melalui operasi Caesar.

Cucu kecilnya ketika lahir berat badannya hanya 630 gram, pernafasan dan detak jantungnya sangat lemah, dokter menyarankan mereka untuk memindahkan bayi itu ke rumah sakit besar untuk diselamatkan.

Menantunya masih harus mendapat pertolongan dan perawatan di rumah sakit itu. Zhou Yulan membiarkan anak lelakinya menjaga menantunya. Dia sendiri membawa cucunya pergi berobat ke rumah sakit yang berada di kota.

Dokter memastikan anak itu kekurangan oksigen dan menyarankan agar segera masuk ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Akan tetapi oleh karena Zhou Yulan tidak bisa membayar uang jaminan rumah sakit sebesar puluhan ribu yuan, dia terpaksa menggendong cucunya itu meninggalkan rumah sakit.

Ketika itu nafas dan detak jantung cucunya sesak dan sangat lemah, dia lalu menggunakan nafasnya sendiri menghangatkan bayi kecil itu.

Mula-mula dia mengambil nafas, kemudian perlahan-lahan ditiupkan ke mulut dan pinggir hidung cucunya. Mungkin juga si kecil itu dapat merasakan kasih dan harapan yang dibawakan oleh neneknya itu, akhirnya dia mulai perlahan-lahan bernafas sendiri.

Zhou Yulan meletakkan cucunya itu di atas perutnya. “Sama seperti ayam yang sedang mengerami telurnya”, memberikan panas tubuhnya kepada cucunya.

Setelah selama satu minggu lebih menggunakan cara demikian, Zhou Yulan baru berani membungkus cucunya itu dengan selimut katun dan selimut kapas, kemudian memeluk dan mendekapnya dengan erat di dadanya.

Demikianlah Zhou Yulan menggunakan panas tubuhnya memperlakukan cucunya yang hanya “setelapak tangan” besarnya itu bertahan hidup dan selamat melewati 9 hari masa kritisnya.

Pada umumnya, bayi prematur dengan berat badan di bawah 750 gram sangat rentan sekali kemungkinan untuk bisa hidup. Zhou Yulan meskipun tidak bisa membayar uang jaminan rumah sakit, ia tidak menjadi sedih dan patah semangat.

Di jaman sekarang banyak sekali keluarga yang karena tidak dapat melunasi hutang-hutangnya, menjadi putus asa, tidak sanggup menghadapi penderitaan hidup, lalu mengambil jalan pintas, bunuh diri bahkan mengajak serta anak istri.

Beberapa bulan lalu, di desa Guan Yin kabupaten Tao Yuan telah terjadi tragedi keluarga yang mati dengan membakar diri, di dalam mobil tempat kejadian, telah ditemukan sisa arang dan obat tidur.

Manusia saat dalam kesengsaraan memang akan merasa sangat tidak enak, tetapi mampu atau tidaknya seseorang untuk melewati kesengsaraan itu, acapkali hanya terpaut pada perbedaan sekilas pikirannya.

Yang dikhawatirkan adalah bila orang itu menyerah begitu saja, jika ia berkeinginan melewati pasti bisa terlewati.

Hanya saja di dalam prosesnya itu, mungkin Anda harus lebih banyak menderita, tetapi sesungguhnya menderita itu juga bukanlah sesuatu hal yang jelek.

Ketika mengalami keada-an sulit, hati harus tetap tenang, jangan mempunyai perasaan telah diperlakukan tidak adil, menyalahkan pihak lain. Jangan menghadapi kesulitan dengan sikap yang tanpa berupaya apa pun, dengan demikian maka akan muncul suatu kesempatan untuk merubah masalah menjadi lebih baik, datangnya kesempatan untuk merubah semacam ini acapkali karena adanya keberanian untuk menanggung akibat.

Zhou Yulan, dengan upayanya yang tidak takut menghadapi penderitaan akhirnya berhasil menyelamatkan nyawa cucunya. Bila kita amati lebih seksama, apalah arti penderitaan itu jika karenanya ia lalu dapat menyelamatkan satu jiwa yang nilainya jauh lebih berharga? (Xiao Xiao/The Epoch Times/lin)


Sabtu, 04 April 2009

Kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi Kasih menutupi segala pelanggaran

“Kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi Kasih menutupi segala pelanggaran”
(Amsal 10:12)

Seorang Pria dan kekasihnya menikah dan acara pernikahannya sungguh megah.
Semua kawan-kawan dan keluarga mereka hadir menyaksikan dan menikmati hari yang berbahagia tersebut.
Suatu acara yang luar biasa mengesankan.

Mempelai wanita begitu anggun dalam gaun putihnya dan pengantin pria dalan tuxedo hitam yang gagah.
Setiap pasang mata yang memandang setuju mengatakan bahwa mereka sungguh-sungguh saling mencintai.

Beberapa bulan kemudian, sang istri berkata kepada suaminya.
“Sayang, aku baru membaca sebuah artikel di majalah tentang bagaimana memperkuat tali pernikahan,”
katanya sambil menyodorkan majalah tersebut.
“Masing-masing kita akan mencatat hal-hal yang kurang kita sukai dari pasangan kita. Kemudian, kita membahas bagaimana merubah hal-hal tersebut dan membuat hidup pernikahan kita bersama lebih bahagia……”
Suaminya setuju dan mereka mulai memikirkan hal-hal dari pasangannya yang tidak mereka sukai dan berjanji tidak akan tersinggung ketika pasangannya mencatat hal-hal yang kurang baik sebab hal tersebut untuk kebaikan mereka bersama.
Malam itu mereka sepakat untuk berpisah kamar dan mencatat apa yang terlintas dalam benak mereka masing-masing.
Besok Pagi ketika sarapan, mereka mulai siap mendiskusikannya.
“Aku akan mulai duluan ya”, kata sang istri.
Ia lalu mengeluarkan daftarnya. Banyak sekali yang ditulisnya, sampai 3 halaman….. Ketika ia mulai membacakan satu persatu hal yang tidak dia sukai dari suaminya,
ia memperhatikan bahwa air mata suaminya mulai mengalir….
“Maaf, apakah aku harus berhenti ?” tanyanya…
“Oh tidak, lanjutkan….” Jawab suaminya.
Lalu sang istri melanjutkan membacakan semua yang terdaftar, lalu kembali melipat kertasnya dengan manis diatas meja dan berkata dengan bahagia “Sekarang gantian ya, engkau yang membacakan daftarmu”.
Dengan suara perlahan suaminya berkata “Aku tidak mencatat sesuatupun di kertasku. Aku berfikir bahwa engkau sudah sempurna, dan aku tidak ingin merubahmu. Engkau adalah dirimu sendiri. Engkau cantik dan baik bagiku. Tidak satupun dari pribadimu yang kudapatkan kurang…….”
Sang istri tersentak dan tersentuh oleh pernyataan dan ungkapan cinta serta isi hati suaminya.
Bahwa suaminya menerimanya apa adanya ….ia menunduk dan menangis….

Dalam hidup ini, banyak kali kita merasa dikecewakan, depresi, dan sakit hati. Sesungguhnya tidak perlu menghabiskan waktu memikirkan hal-hal tersebut. Hidup ini penuh dengan keindahan, kesukacitaan dan pengharapan.

Mengapa harus menghabiskan waktu memikirkan sisi yang buruk, mengecewakan dan menyakitkan jika kita bisa menemukan banyak hal-hal yang indah di sekeliling kita ? Kita akan menjadi orang yang lebih berbahagia jika kita mampu melihat dan bersyukur untuk hal-hal yang baik dan mencoba melupakan hal-hal yang buruk.

Sophie Beatrix Rundengan
(Sumber : Renungan Harian)

SelamaT Datang dan Selamat membaca semoga bermanfaat bagi anda

^^

Nyaman kan anda masuk ke tempat saya