
(Epochtimes.co.id)
Ketika kita sehat, kita jarang berpikir tentang seperti apa rasanya sakit. Tetapi ketika kita benar-benar sakit, semua yang dapat kita pikirkan adalah menjadi sehat kembali.
Tak peduli berapa banyak kekayaan dapat kita kumpulkan di dunia ini, pada akhirnya semua itu tak ada gunanya tanpa adanya kesehatan yang baik. Hal ini terkait erat dengan pengetahuan tentang kematian kita sendiri.
Di lubuk hati terdalam, kita semua tahu bahwa kita hanya mempunyai sekian banyak waktu di dunia, setelah itu semua akan berakhir.
Jadi apa yang penting dalam kehidupan ini? Sebuah pertanyaan yang benar-benar menarik. Yang penting itu tentu bukan uang, karena kita tidak dapat membawanya bersama kita ketika kita meninggal.
Apa yang penting bukanlah apa yang kita miliki karena semua itu tidak dapat kita bawa serta. Harta benda yang kita miliki hanyalah bersifat sementara. Benda-benda itu akan musnah seiring kepergian kita.
Ketika menyadari hal ini, sejumlah orang lalu berpaling kepada ikatan dengan sesama. Mereka merasa bahwa hubungan dengan keluarga dan teman-teman tentulah yang terpenting. Namun, kita juga akan kehilangan kontak dengan mereka saat kita meninggal.
Beberapa orang meninggal dan kemudian kembali. Mereka menamakannya sebuah pengalaman menjelang kematian. Banyak dari orang-orang itu berbicara tentang apa yang mereka lihat selama dalam kondisi itu.
Mereka juga berbicara tentang apa yang mereka rasakan, yang hampir secara universal indah. Ada sejumlah kecil orang yang mengatakan telah pergi ke suatu tempat yang mengerikan, tetapi kebanyakan dari orang-orang itu merasa enak, nyaman. Mereka terbebas dari rasa sakit dan penderitaan dari tubuh mereka yang meninggal.
Dalam sebuah pengalaman menjelang kematian, banyak yang berbicara melihat proses kilas-balik kehidupan mereka, dimana gambaran keseluruhan kehidupan mereka ditayangkan di depan mata.
Hal baik dan hal buruk yang telah mereka lakukan semua terlihat di sana. Mereka melihat bagaimana efek perilaku dan tutur kata mereka terhadap orang lain. Nampaknya, sangat menyakitkan untuk mengetahui betapa dalam, mereka telah melukai orang lain.
Mereka juga dapat melihat hal-hal baik yang mereka lakukan. Saya ingat ada seorang perempuan yang mengalami proses kilas-balik kehidupannya mengatakan bahwa perilaku paling berarti dari seluruh hidupnya adalah pada masa kecil, saat ia menggegam sekuntum bunga kecil di tangannya dan dengan sepenuh hati memberinya kasih. Ia menganggap itu adalah hal yang paling berarti yang pernah ia lakukan sepanjang hidupnya.
Dengan mengetahui bahwa suatu saat kita akan melihat kilas-balik kehidupan kita, kita dapat menyimpulkan apa yang penting dalam kehidupan kita bukanlah siapa kita atau apa yang kita capai tetapi bagaimana cara kita memperlakukan orang lain. Karena itu, ketika kita merenungkan kehidupan kita dan menentukan tujuan kita, mungkin akan menjadi sebuah gagasan yang baik bila kita memikirkan orang lain terlebih dahulu.
Hidup bukanlah sementara, tetapi kehidupan di dunia memanglah demikian. Bagaimana kita akan menghadapi semua orang yang akan melihat apa yang telah kita perbuat setelah semua ini berakhir?
Semoga kita akan dapat melakukan hal-hal yang dapat membuat kita bahagia nantinya. (David Snape/The Epoch Times/bdn)
Ketika kita sehat, kita jarang berpikir tentang seperti apa rasanya sakit. Tetapi ketika kita benar-benar sakit, semua yang dapat kita pikirkan adalah menjadi sehat kembali.
Tak peduli berapa banyak kekayaan dapat kita kumpulkan di dunia ini, pada akhirnya semua itu tak ada gunanya tanpa adanya kesehatan yang baik. Hal ini terkait erat dengan pengetahuan tentang kematian kita sendiri.
Di lubuk hati terdalam, kita semua tahu bahwa kita hanya mempunyai sekian banyak waktu di dunia, setelah itu semua akan berakhir.
Jadi apa yang penting dalam kehidupan ini? Sebuah pertanyaan yang benar-benar menarik. Yang penting itu tentu bukan uang, karena kita tidak dapat membawanya bersama kita ketika kita meninggal.
Apa yang penting bukanlah apa yang kita miliki karena semua itu tidak dapat kita bawa serta. Harta benda yang kita miliki hanyalah bersifat sementara. Benda-benda itu akan musnah seiring kepergian kita.
Ketika menyadari hal ini, sejumlah orang lalu berpaling kepada ikatan dengan sesama. Mereka merasa bahwa hubungan dengan keluarga dan teman-teman tentulah yang terpenting. Namun, kita juga akan kehilangan kontak dengan mereka saat kita meninggal.
Beberapa orang meninggal dan kemudian kembali. Mereka menamakannya sebuah pengalaman menjelang kematian. Banyak dari orang-orang itu berbicara tentang apa yang mereka lihat selama dalam kondisi itu.
Mereka juga berbicara tentang apa yang mereka rasakan, yang hampir secara universal indah. Ada sejumlah kecil orang yang mengatakan telah pergi ke suatu tempat yang mengerikan, tetapi kebanyakan dari orang-orang itu merasa enak, nyaman. Mereka terbebas dari rasa sakit dan penderitaan dari tubuh mereka yang meninggal.
Dalam sebuah pengalaman menjelang kematian, banyak yang berbicara melihat proses kilas-balik kehidupan mereka, dimana gambaran keseluruhan kehidupan mereka ditayangkan di depan mata.
Hal baik dan hal buruk yang telah mereka lakukan semua terlihat di sana. Mereka melihat bagaimana efek perilaku dan tutur kata mereka terhadap orang lain. Nampaknya, sangat menyakitkan untuk mengetahui betapa dalam, mereka telah melukai orang lain.
Mereka juga dapat melihat hal-hal baik yang mereka lakukan. Saya ingat ada seorang perempuan yang mengalami proses kilas-balik kehidupannya mengatakan bahwa perilaku paling berarti dari seluruh hidupnya adalah pada masa kecil, saat ia menggegam sekuntum bunga kecil di tangannya dan dengan sepenuh hati memberinya kasih. Ia menganggap itu adalah hal yang paling berarti yang pernah ia lakukan sepanjang hidupnya.
Dengan mengetahui bahwa suatu saat kita akan melihat kilas-balik kehidupan kita, kita dapat menyimpulkan apa yang penting dalam kehidupan kita bukanlah siapa kita atau apa yang kita capai tetapi bagaimana cara kita memperlakukan orang lain. Karena itu, ketika kita merenungkan kehidupan kita dan menentukan tujuan kita, mungkin akan menjadi sebuah gagasan yang baik bila kita memikirkan orang lain terlebih dahulu.
Hidup bukanlah sementara, tetapi kehidupan di dunia memanglah demikian. Bagaimana kita akan menghadapi semua orang yang akan melihat apa yang telah kita perbuat setelah semua ini berakhir?
Semoga kita akan dapat melakukan hal-hal yang dapat membuat kita bahagia nantinya. (David Snape/The Epoch Times/bdn)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar